BRMP Mektan Dorong Peningkatan Mutu dan Nilai Jual Kopi melalui Mekanisasi Pascapanen
Tanggamus, 29 Oktober 2026. Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Mekanisasi Pertanian (BRMP Mektan) bersama BRMP Perkebunan dan BRMP Lampung menyelenggarakan Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Petani dalam Mengoptimalkan Mutu dan Nilai Jual Kopi melalui Pemanfaatan Alsin Pascapanen pada 28-29 Oktober 2026 di Kecamatan Talang Padang, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Bimbingan teknis ini dilaksanakan melalui Klinik Modernisasi Pertanian (KMP) sebagai bagian dari program Integrated Corporation of Agricultural Resources Empowerment (ICARE). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam mengenal, mengoperasikan, merawat, serta menangani gangguan pada alat dan mesin pertanian (alsintan) pascapanen kopi.
Sebanyak 200 peserta mengikuti bimbingan teknis selama dua hari, dengan jumlah 100 peserta setiap harinya. Peserta memperoleh pembekalan teori dan praktik mengenai pemanfaatan alsintan untuk mendukung proses pengolahan kopi pascapanen, mulai dari pengupasan kulit buah hingga pengolahan biji kopi menjadi produk siap konsumsi.
Sekretaris Kecamatan Talang Padang, Singgih Susilo, hadir memberikan sambutan. Ia berharap kegiatan ini dapat menambah ilmu dan keterampilan petani, khususnya dalam pengoperasian alsintan kopi. Sementara itu, Kepala Bidang Produksi Perkebunan, Wawan Mufti, menyampaikan bahwa peningkatan kapasitas petani tidak hanya perlu berfokus pada keterampilan penggunaan alsintan, tetapi juga mencakup pembinaan manajemen usaha perkebunan.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Arfi Irawati, S.P., M.Si., selaku Kepala Kelompok Substansi (Kapoksi) BRMP Lampung. Turut hadir Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (KTPH), Alkat Alamsyah, S.E., M.M. Dalam kesempatan tersebut, Alkat berharap para peserta dapat menggali ilmu sebanyak mungkin selama mengikuti bimbingan teknis dan membagikan pengetahuan yang diperoleh kepada petani lainnya.
Materi teknis disampaikan oleh Joko Wiyono, S.T.P., M.Si., dengan topik Pelatihan Teknis, Pengenalan, Pengoperasian, Perawatan, serta Troubleshooting Alsin Pascapanen Kopi. Peserta diperkenalkan dengan lima jenis alsintan yang digunakan dalam pengolahan kopi, yaitu pulper untuk mengupas kulit buah kopi, huller untuk mengupas kulit tanduk biji kopi, mesin grading untuk memilah biji berdasarkan ukuran dan kualitas, roaster untuk menyangrai biji kopi, serta grinder untuk menggiling biji kopi menjadi bubuk.
Peserta tampak antusias mengikuti pemaparan materi dan pengenalan berbagai alsintan tersebut. Melalui pemahaman terhadap fungsi dan cara kerja masing-masing alat, peserta diharapkan mampu mengoperasikan dan merawat alsintan dengan tepat. Pengetahuan mengenai penanganan gangguan atau troubleshooting juga menjadi bagian penting agar proses pengolahan dapat berjalan lebih optimal dan kualitas hasil panen tetap terjaga.
Dalam sesi diskusi, Desriyani dari Kelompok Tani Mekar Tani turut menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya peningkatan kapasitas petani, khususnya dalam memahami dinamika pemasaran kopi. Menurutnya, waktu penjualan dapat memengaruhi harga dan grade kopi yang diperoleh petani. Ia juga mengungkapkan bahwa perkembangan harga kopi dunia, termasuk di negara produsen seperti Brasil dan Vietnam, menjadi salah satu pertimbangan petani dalam menentukan waktu penjualan.
Berdasarkan pengalamannya, kondisi harga kopi di Brasil dapat menjadi salah satu acuan dalam mempertimbangkan waktu penjualan, termasuk pada periode panen bulan April. Ia berharap petani memiliki pemahaman yang lebih luas mengenai kualitas produk dan perkembangan pasar sehingga dapat menentukan strategi penjualan secara lebih tepat.
Melalui KMP dalam program ICARE, BRMP Mektan bersama BRMP Perkebunan dan BRMP Lampung terus mendorong peningkatan kapasitas petani dalam memanfaatkan mekanisasi pertanian, khususnya pada penanganan pascapanen kopi. Penguasaan teknologi alsintan yang didukung dengan pemahaman manajemen usaha dan pemasaran diharapkan dapat meningkatkan mutu hasil olahan, memperkuat daya saing produk, serta memberikan nilai tambah dan meningkatkan pendapatan petani kopi di Kabupaten Tanggamus. (TS/MRAM)